Menjahit Marat Sade

load more contents...

DarahRouge dan Hilda Winar Project kerjasama dengan Bentara Budaya Jakarta mempersembahkan pertunjukan teater
Menjahit Marat Sade di Bentara Budaya Jakarta, Jam 8 wib pada Selasa tanggal 23 Februari 2016.
DarahRouge ingin mengucapkan terima kasih kepada : Bentera Budaya Jakarta ( Mas Rony, Ibu Dinar) dan seluruh staff Bentara Buday; Hilda Winar Project
Menjahit Marat Sade adalah pertunjukan yang menjahit memori2 pentas Mara/ Sade pada tahun 2005 dan 2010. Karya asli ( Marat/Sade karya Peter Weis) dan pertunjukan ini ( Menjahit Marat Sade) adalah sebuah pertunjukan tentang revolusi (revolusi diri sendiri,teater dan proses kreatif serta sosial),sebagai orang asing serta sutradara perempuan. Kerensa Dewantoro mencoba menghadirkan sebuah teater teks dan gerak yang mengais serta merangkai kembali memori saat ia berproses membangun sebuah produksi teater yang berjudul MARAT/SADE. Dengan memakai bermacam genre teater,sang aktor bertemu memori dirinya di dalam rumah sakit jiwa,dia bertanya pada dirinya apa fungsi roh,aktor,sutradara serta posisi dirinya di kancah teater Indonesia. “saya bertindak dan saya lantangkan bahwa ini dan itu salah,dan saya bekerja untuk merubahnya.Dan memperbaiki yang pada intinya adalah untuk merubah diri kita sendiri dengan kemampuan sendiri”.

Kerensa menterjemahkan gaya penulisan Marat yang mengalir dengan cara elegan namun sangat kuat karena pilihan kata-katanya seperti, “pembunuh” dan “kemarahan’ untuk dapat diapropriasikan dalam wujud teater. Frans Ari Prasetyo http://www.bandungmagazine.com/analysis/menjahit-marat-revolusi-dan-menjahit-kota

Judul lengkap dari drama asli ini adalah “Pembunuhan dan Penyiksaan Terhadap Marat Sebagaimana Dipentaskan oleh Pasien-pasien RSJ Charenton di Bawah Penyutradaraan Marquis De Sade” dan ditulis oleh dramawan Jerman Peter Weiss di tahun 1964 dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh W. Munadi. Cerita mengalir dalam bentuk dialog antara Jean Paul Marat, revolusionis Perancis dan Marquis De Sade, seorang penulis yang konon berperilaku menyimpang dan menghasilkan karya-karya sadis. Naskah asli pernahpentas dua kali di Indoneisa dna dua duanya disutradarai oleh seorang seniman/sutradara dari Australia, Kerensa Dewantoro dengan Syamsul Fajri Nurawat, dan merupakan karya bersama antara Teater Cassanova, Teater Sapunyere dan Jurusan Teater STSI dan 2010 di STSI buat Aguste Darmawan.

Drama asli ini merupakan diskusi mengenai sebab akibat dari revolusi dengan kekerasan, berlatar belakang jatuhnya Revolusi Perancis yang kental mewarnai tema-tema di atas, dan ditambah nuansa kekacauan karena drama-di-dalam-drama ini dimainkan oleh pasien-pasien rumah sakit jiwa. Para pemain dan kru pertunjukan ini telah melewati latihan-latihan ketat dan melakukan studi pengamatan ke pelbagai rumah sakit jiwa di Bandung. Pada pertunjukan Menjahit Marat Sade inilah adalah drama di balik dramanya dan akan dipentaskan oleh K. Dewantoro, Yayan Katho, Reggie Anderson dan Estee Fuzianna.

Jadi akhirnya setelah process yang lama, Kerensa mengabung penglemannya sendiri dan mengambil potongan tex dari naskahnya asli untuk ciptakan pertunjukan baru Menjahit Mart Sade yang bebaur bermacam genre teater dari realisme ke badut ke theater kekerasan ( theater of cruelty) ke caberet untuk membangun suasana kegilaan dia sendiri ketika menyutradari. Dalam waktu bersama dia menjadi Marquis de Sade dan lain waktu menjadi Jean Paul Marat seorang revolusionair Perancis.
“Pertunjukan ini tentang revolusi – baik personal (khususnya dalam hal berteater) maupun sosial. “Revolusi memperkenalkanku kepada seni, dan sebaliknya, seni memperkenalkanku kepada revolusi!” (Albert Einstein). Ketika aku disodorkan naskah Marat/Sade karya Peter Weiss, ada suara-suara menggema dalam bathin saya, bahwa ini tentang Bandung dan Indonesia. Ini mengubah cara pandang saya pada dunia. Saya yakin bahwa revolusi harus dimulai dari dalam tempat bekerja dan ini bisa terwujud melalui tulisan seorang Peter Weiss. Kenyataan bahwa teater di Indonesia bukanlah ruang yang terbuka seperti dugaan saya. Saya menyutradarai Marat
“dan bukan teater biasa karena membawakan sebuah rekonstruksi naskah “Marat/Sade – Penyiksaan dan Pembunuhan terhadap Jean Paul Marat sebagaimana dipentaskan oleh pasien-pasien Rumah Sakit Jiwa Charenton dibawah Penyutradaraan Marquis de Sade”, karya Peter Weiss”. Hilda Winar

Pementasan ini sangat kental akan lika-liku kebobrokan sosial & kemanusiaan di negeri ini yang ditampilkan dg monolog yg indah: Seputar Event
“Engaging from the very start, an explosive ride that doesn’t let up until the last moments,”
Terjemhan: “Melibatkan dari awal , naik peledak yang tidak membiarkan sampai saat-saat terakhir” Rosie Browning savannahproductions@bigpond.com.au di Australia, Juni 2015
“Sungguh, ini potongan adegan pembuka luar biasa dimainkan oleh perawat dan pasien. Gerutuan, geraman, menyerocos,  menggodam keras perempuan bernama kerensa itu.” Hilda Winar
Sutradara dan Karya: K.Dewantoro
Assistant Sutradara: Sugiyanti Ariani
Dramaturg: Moh. Syafari Firdaus
Potongan Text: Peter Weiss
Setting Panngung: S.E.Dewantoro

PemainL Kerensa Dewantoro, Estee Fuzianna and Yayan Katho

You might also like